Sansevieria, Tanaman Hias Penyerap Ratusan Jenis Racun di Udara

Sebuah fakta menarik, bahwa Lembaga Penerbangan Antariksa AS (NASA) menanam ribuan sansevieria di dekat instalasi nuklirnya. Lokasi penanaman ini hanya berjarak sekitar 10-25 meter dari instalasi nuklir tersebut. Apabila suatu saat terjadi kebocoran, maka ribuan sansevieria tersebut akan meredamnya.

Ya, ternyata tanaman hias Sansevieria atau dikenal juga dengan sebutan Lidah Mertua adalah tanaman antipolutan dan juga penangkal radiasi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Sanseveira mampu menyerap 107 jenis racun. Termasuk racun-racun yang terkandung dalam polusi udara (karbonmonoksida), racun rokok (nikotin), bahkan radiasi nuklir.

Riset lainnya dapat disimpulkan bahwa untuk ruangan seluas 100m3 cukup ditempatkan Sansevieria Lorentii dewasa berdaun 5 helai agar ruangan itu bebas polutan.

Ciri spesifik yang jarang ditemukan pada tanaman lain, diantaranya mampu hidup pada rentang suhu dan cahaya yang luas, sangat resisten terhadap gas udara yang berbahaya (polutan), bahkan mampu menyerapnya sehingga di daerah berlalu lintas padat.

Dan di dalam ruangan yang penuh dengan asap nikotin dimanfaatkan sebagai antipolutan (air freshener). Sementara di Afrika getah Sansevieria dimanfaatkan sebagai anti racun ular dan serangga.

Sebagai tanaman hias sansevieria sangat mudah dirawat dan tidak membutuhkan banyak lahan. Sansiveria (lidah mertua) memang sering kita temui di pekarangan rumah di kampung-kampung, baik itu ditanam di sekitar pagar maupun di dalam pot, tetapi mungkin kita belum banyak mengetahui akan salah satu fungsinya yang anti polutan dan radiasi, jadi bagi yang belum buruan kita tanam di rumah kita.

NASA- Badai Matahari 2013 Bisa Jadi Bencana

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperingatkan bahaya badai matahari. Sejumlah negara, termasuk Inggris akan menghadapi mati listrik dan hilangnya jaringan komunikasi secara meluas -- setelah Bumi dihantam 'badai luar angkasa'.

Jaringan listrik di Inggris akan mengalami panas berlebihan, akan ada gangguan perjalanan udara. Sementara, kerja peralatan elektronik terganggu, alat navigasi, dan satelit utama buatan manusia berhenti beroperasi -- saat Matahari mencapai kekuatan maksimumnya dalam beberapa tahun.

Ilmuwan senior NASA yakin, Bumi akan terpukul oleh tenaga magnetis dari jilatan api Matahari dalam level yang tak diketahui, setelah Sang Surya 'bangun dari tidurnya yang panjang' suatu hari di tahun 2013. Demikian diungkap dalam artikel yang ditulis di The Daily Telegraph.

Dalam peringatan terbarunya, NASA mengatakan, badai superkuat akan memukul bumi seperti 'kilat'. Efeknya, bisa mengakibatkan bencana bagi kesehatan di dunia, layanan gawat darurat dan juga kemanan nasional -- kecuali tindakan pencegahan sudah diambil sebelumnya.

Para ilmuwan percaya, badai matahari dapat merusak segala sesuatu, dari sistem layanan darurat, peralatan rumah sakit, sistem perbankan dan perangkat kontrol lalu lintas udara, hingga barang-barang sehari-hari seperti komputer dan iPod.

Karena ketergantungan manusia pada perangkat elektronik, yang sensitif terhadap energi magnetik, badai matahari bisa berarti kerugian besar dan berpotensi menjadi masalah serius bagi pemerintahan suatu negara.

"Kita tahu bahwa badai matahari akan datang, tapi kita tidak tahu seberapa buruk yang akan terjadi ," kata direktur divisi Heliophysics NASA, Dr Richard Fisher, seperti dimuat laman Telegraph, 14 Juni 2010.

"Ini akan mengganggu kerja perangkat komunikasi seperti satelit dan navigasi mobil, perjalanan udara, sistem perbankan, komputer, segala sesuatu yang elektronis. Ini akan menimbulkan masalah besar bagi dunia."

Sebagian wilayah Bumi akan kehilangan tenaga listrik. Dan untuk memperbaiki kerusakan yang ada, membutuhkan waktu yang tak sebentar.
Dalam konferensi cuaca baru-baru ini diselenggarakan di Washington DC, yang dihadiri para ilmuwan NASA, pembuat kebijakan, peneliti dan pejabat pemerintah, peringatan bahaya badai matahari diberitahukan.

Ini, kata Fisher, bukan sekedar peringatan, melainkan peringatan yang paling komperehensif. Badai, yang akan menyebabkan Matahari mencapai suhu lebih dari 10.000 F atau 5.500 derajat celcius -- sesuatu yang jarang terjadi.

Setiap siklus 22 tahun, energi magnetik Matahari mencapai puncaknya, sementara, jumlah bintik matahari (flare) mencapai maksimum setiap 11 tahun.

Kejadian pada 2013 menggabungan dua fenomena tersebut dan menghasilkan tingkat radiasi besar. Dia mengatakan sebagian besar wilayah dunia bisa menghadapi hidup tanpa listrik selama beberapa bulan, meskipun dia mengakui bahwa itu tidak mungkin.

Alternatif yang lebih mungkin adalah bahwa daerah yang luas, termasuk Eropa Utara dan Inggris yang memiliki jaringan listrik yang rapuh akan mengalami kelumpuhan energi, hidup tanpa listrik selama beberapa jam, atau beberapa hari.

Kata Fisher, persiapan harus dilakukan, pada level sama seperti menghadapi angin topan -- saat pemerintah tahu bencana sudah dekat namun tak tahu seberapa besar kerusakan yang akan terjadi.

"Saya pikir, yang jadi masalah utama adalah bahwa saat ini masyarakat modern sangat bergantung pada elektronik, ponsel dan satelit daripada sebelumnya," katanya.

Sebelumnya, National Academy of Sciences, dua tahun lalu, telah memperingatkan, jaringan daya, GPS navigasi, perjalanan udara, jasa keuangan dan komunikasi radio darurat bisa terganggu oleh aktivitas Matahari.

Kerusakan ekonomisnya bisa dua puluh kali lebih parah dari Badai Katrina -- yang menghancurkan New Orleans pada tahun 2005 dan merugikan secara ekonomi sekitar US$ 125 miliar.

Tindakan apa saja yang bisa dipersiapkan suatu negara? Kata Fisher, tindakan pengamanan. Termasuk pembuatan sistem cadangan energi untuk rumah sakit dan pembangkit listrik, pengembangan satelit yang lebih aman.

Saat ini, NASA terus menyelidiki pengaruh badai matahari di bumi dengan menggunakan puluhan satelit. Meneropong seberapa besar potensi ancamannya bagi Bumi.

NASA Membuat Prototipe Solar Shield

Tahun 2013 akan jadi tahunnya Sang Surya. Saat itu diperkirakan akan terjadi badai Matahari. Meski tak sampai menghancurkan peradaban di Bumi, ini jelas fenomena yang tak boleh dianggap remeh.

Badai Matahari bisa mempengaruhi atmosfer, memutus jaringan telekomunikasi, dan mematikan jaringan listrik di Bumi. Akibatnya fatal bagi manusia yang terlanjur tergantung pada teknologi.

Bayangkan, hidup tanpa listrik, dalam hitungan jam bahkan bulan. Sementara, alat transportasi massal -- kereta, MRT, subway, dan pesawat terbang. Tak hanya itu, alat navigasi berbasis GPS dan satelit akan lumpuh. Jangan harap telepon genggam Anda akan bisa digunakan.

Pada 2008, diprediksi, badai matahari akan menelan biaya ekonomi US$ 2 triliun di tahun pertama. Pemulihan butuh waktu 10 tahun.

Untuk mengantisipasi malapetaka, Badan Antariksa AS, NASA menemukan alat terbaru: peringatan dini untuk melindungi sumber energi Bumi dari dahsyatnya badai Matahari.

Proyek terbaru NASA ini dinamakan 'Solar Shield' yang didesain untuk memprediksi tingkat keparahan badai Matahari di lokasi tertentu di Bumi. Ini untuk membantu perusahaan listrik merencanakan respon dan membatasi potensi kerusakan pada peralatan mereka.

"Alat ini untuk mengetahui 'sesuatu akan datang dan mungkin menjadi besar," kata kepala proyek, Antti Pulkkinen, seperti dimuat situs Space.com.

Bagaimana cara kerjanya?

Prosesnya akan seperti ini: Saat coronal mass ejection atau lontaran massa korona Matahari terdata, data dari observatorium seperti satelit SOHO dan satelit Stereo NASA , memungkinkan tim membuat model 3D dan menyediakan prediksi jangka panjang kapan badai akan tiba -- sampai prediksi 24-48 jam.

Tim lalu menggunakan komputer di Goddard's Community Coordinated Modeling Center (CCMC) membuat prediksi umum,

Lalu, satelit pemantauan cuaca angkasa NASA akan memantau saat aliran partikel bergerak lebih dekat ke Bumi, sekitar 30 sampai 60 menit sebelum mencapai planet kita.

Data terkini, memungkinkan tim untuk cepat memperbaiki dan menyempitkan prediksi mereka. Hasil ini akan disampaikan NASA kepada Electric Power Research Institute Program Sunburst dan lalu disampaikan pada perusahaan penyedia listrik.

Pulkkinen mengatakan proyek Solar Shield masih dalam tahap percobaan dan masih dibutuhkan data yang pengamatan Matahari lebih banyak.

About Me